Opini

Stabilitas Perekonomian Nasional

Kamis, 02 Juli 2015 03:58
Media Indonesia_Arif Budimanta

Budimanta.com - Artikel Ini diambil dari harian Media Indonesia edisi Kamis (2/7/2015)

Penulis: Arif Budimanta, Direktur Megawati Institute

Perekonomian global berada dalam persimpangan yang kompleks karena menghadapi dilema perekonomian global yang terus melambat dan penuh ketidakpastian. Sementara di sisi lain, perekonomian nasional harus menghadapi tantangan ekspektasi yang down-spiral terhadap momentum pertumbuhan ekonomi, sehingga bisa berakibat pada pertumbuhan yang terus turun. Dua dilema tersebut harus diatasi dengan baikdan memerlukan kebijakan yang terpisah.

Satu kata kunci yang menyatukan keduanya, yaitu “stabillitas”. Stabilitas makroekonomi dan finansial untuk menghadapi perlambatan dan ketidakpastian ekonomi dunia. Stabilitas pertumbuhan ekonomi guna menghindari negatif ekspektasi berlebihan dan menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

Banyak orang yang khawatir apakah arah perkembangan perekonomian nasional akan bernasib sama dengan Yunani ?. Kalau kita melihat sejumlah indikator makroekonomi, maka dapat dikatakan secara fundamental perekonomian kitadalam keadaan relatif sehat di tengah dinamika melesunya perekonomian global saat ini.

Sejumlah indikator dapat dijadikan bukti empiris terhadap keadaan tersebut yaitu, dalam triwulan pertama tahun 2015 perekonomian nasional kita masih tetap tumbuh pada triwulan pertama 4,7% yang secara relative terkategori tinggi apabila kita bandingkan dengan negar-negara di kawasan atau kalau kita bandingkan dengan yunani yang saat ini malah ekonominya menyusut. Pada tahun lalu juga kita masih bisa tumbuh sekitar lima persen.

Begitu pula kalau kita lihat dengan neraca perdagangan kita yang surplus, neraca transaksi berjalan kita yang defisitnya semakin membaik yang ditunjukkan dengan menurunnya defisit dalam beberapa tahun terakhir ini dari hampir mendekati 3% dariproduk domestik bruto menjadi kurang dari 1,8%. Begitu juga dengan defisit fiskal kita masih jauh dibawah tiga persen, kalau kita bandingkan Undang-Undang Keuangan Negara denganYunani defisit fiskalnya mencapai lebih dari 50% produk domestik brutonya. Undang-Undang 17 tahnun 2003 Tentang Keuangan Negara mensyaratkan agar defisit fiskal tidak boleh melebihi 3% dari produk domestik bruto, sampai dengan saat ini pemerintah dapat menjalankannya secara disiplin.

Selanjutnya tantangan yang kita hadapi saat ini adalah bagaimana menjaga agar kualitas dari pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga dan tidak membrikan pengaruh terhadap kualitas penyerapan tenaga kerjadan target penurunan kemiskinan.

Karena sejatinya pertumbuhan ekonomi adalah instrument pembangunan yang tujuan akhirnya adalah peningkatan kesejahteraan rakyat. Pertumbuhan yang tinggi tetapi tanpa memberikan kemajuan kesejahteraan umum, akan meninggalkan masalah bagi stabilitas sopsial pada akhirnya.

Salah satu penghela pertumbuhan di Indonesia saat ini adalah dari sisi konsumsi. Konsumsi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, yang paling utama datang dari masyarakat.

Agar konsumsi dari masyarakat dapat bertahan dan meningkat maka ada prasyarat utama yang harus dilakukan. Yang pertama adalalah menjaga daya beli dan yang kedua dengan menjaga inflasi terutama inflasi bahan makanan. Penjagaan terhadap daya beli dan inflasi adalah ibarat satu keping mata uang dalam duasisi yang berlainan. Dengan menjaga inflasi dan daya beli maka kita berarti secara tidak langsung menjaga sektor riil untuk terus berproduksi.

Apabila Inflasi umum dapat dikendalikan dibawah 5% dan sumbangan inflasi dari bahan makanan dapat dikendalikan dibawah 3%, maka hal ini dapat memberikan manfaat yang berganda bagi perekonomian kita.

Manfaat yang pertama adalah stabilitas harga, yang kedua adalah daya beli dan manfaat yang lain adalah masyarakat memiliki kesempatan untuk menabung sebagian dari sisa penghasilannya di lembaga jasa keuangan. Tabungan yang terkumpul dari dana masyarakat dapat dipergunakan untuk menggerakkan pembiayaan pembangunan.

Pada sisi lain, inflasi yang terkendali tersebut akan menggerakkan juga perbankan kita un tuk menurunkan suku bunganya yang pada saat ini dianggap tinggi dibanding negara-negara di kawasan. Karena inflasi yang tinggi membuat biaya dana yang dikumpulkan oleh perbankan dari masyarakat menjadi mahal, yang pada akhirnya membuat tingkat bunga pinjaman juga menjadi mahal, dan menjadikan perekonomian kita berbiaya mahal dan tidak kompetitif.

Hal inilah yang sedang dikerjakan oleh pemerintah pada saat ini dengan sejumlah langkah terobosan . Untuk mengendalikan inflasi bahan makanan, pemerintah telah menerbitkan aturan terkait stabilisasi harga pangan pokok, pemerintah berusaha menjaga stabilitas harga bahan-bahan kebutuhan pokok masyarakat tidak hanya beras tetapai mencakup beberapa kebutuhan bahan pangan lainnya. Peran Bulog juga diperluas, serta diberikan tambahan modal oleh pemerintah, agar cita-cita menjaga stabilitas harga ini akan berjalan dengan baik.

Di sisi lain pemerintah dalam rangka menggerakkan sektorriil telah melakukan sejumlah relaksasi aturan fiskal berupa insentif agar  sektor riil dapat terustumbuh, pemerintah juga terus berusaha melakukan efisiensi dan meningkatkan daya saing biaya logistik kita dengan melakukan sejumlah langkah reformasi dan pembangunan infrastruktur secara simultan untuk mempermudah akses orang ataupun barang di seluruh pelosok nusantara.

Semua langkah-langkah tersebut tentu saja memerlukan siklus koordinasi yang kuat antar kementrian/lembaga dan dunia usaha. Dengan bergotong royong, bersinergi, bekerja secara bahu membahu maka tidak ada beban dan masalah berat yang tidak dapat kita angkat dan kita selesaikan. Kalau kita mau pasti bisa.

 

*****

 

 

 
TANGGAPAN

Belum ada tanggapan sampai saat ini.

Silahkan melakukan login terlebih dahulu sebelum Anda bisa memberikan tanggapan. Jika belum menjadi anggota, silahkan untuk mendaftarkan diri Anda terlebih dahulu. GRATIS!