Berita

Indonesia Diharapkan Tetap Pegang Ekonomi Pancasila

Kamis, 12 Juli 2012 09:44

Budimanta.com - Jurnas.com | KAPITALISME saat ini dinilai sudah berada di jurang kehancuran. Padahal di sisi lain, sosialisme telah memilih corak kapitalisme. karena itu, Indonesia diharapkan tidak terbawa arus kapitalisme maupun sosialisme, namun tetap menganut ekonomi Pancasila. Hal itu ditegaskan Arif Budimanta, Direktur Eksekutif Megawati Institute di Jakarta, Kamis (12/07).

"Perkembangan ekonomi dunia saat ini setidaknya membawa pelajaran bagi kita, bahwa kapitalisme sudah berada di jurang kehancuran," katanya.

Menurutnya, ekonomi Pancasila sebagai ideologi alternatif yang operasionalisasi konstutusionalnya dituangkan dalam UUD 45 hendaknya dijadikan landasan ideologi dalam membangun kesejahteraan dan keadilan sosial. "Inilah pilihan jalan lurus bagi Indonesia yang saat ini membangun, tanpa pijakan ideologi lain, "tegasnya.

Arif mengatakan, para ekonom Indonesia cenderung berkutat dalam perdebatan soal ideologi ekonomi seperti kapitalisme dan sosialisme. Padahal, lanjut dia, gagasan ekonomi Pancasila melampaui dua paham tersebut.

Walaupun begitu, dia mengakui setiap gagasan memiliki kelemahan dan kelebihan sehingga harus terus disuarakan untuk disempurnakan demi kesejahteraan dan kemakmuran bersama. "Menurut saya, bangunan ekonomi Pancasila adalah sebuah sistem yang dibangun berdasarkan semangat ke-Indonesiaan. Ia tidak kapitalis tidak pula sosialis," katanya.

Berdasarkan perbandingan paradigma ekonomi pada relasi, pelaku dan harga, ekonomi Pancasila mempunyai ciri khas penguasaan negara untuk kemakmuran rakyat, usaha bersama atau koperasi bercorak gotong royong dan kebutuhan dasar dikendalikan negara. Sedangkan kapitalisme, menurutnya berciri minim campur tangan negara, pelaku oleh individu maupun swasta dan harga ditentukan mekanisme pasar. Sementara pada sosialisme, cirinya, negara memainkan peran utama, pelaku oleh negara maupun kolektivisme serta harga dikendalikan oleh negara.

Menurut Airf, tujuan ekonomi Pancasila adalah memajukan kemanusiaan dan peradaban, memperkuat persatuan nasional melalui proses usaha bersama atau gotong royong. Prosesnya adalah distribusi akses ekonomi yang adil bagi seluruh warganegara yang dilandasi oleh nilai-nilai etik pertanggungjawaban kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menurutnya, konseptualisasi ekonomi Pancasila pertama sekali dilakukan oleh Emil Salim dan kemudian disuarakan oleh beberapa ekonom lainnya seperti Widjojo Nitisastro, Mubyarto dan lain sebagainya.

TANGGAPAN

Belum ada tanggapan sampai saat ini.

Silahkan melakukan login terlebih dahulu sebelum Anda bisa memberikan tanggapan. Jika belum menjadi anggota, silahkan untuk mendaftarkan diri Anda terlebih dahulu. GRATIS!