Artikel

Kepercayaan Dalam Krisis Keuangan Dunia

Selasa, 14 Oktober 2008 17:27

Budimanta.com - Dr. Ir. Arif Budimanta, MSc

Telah hampir sepekan sejak Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Kongres negara itu memutuskan untuk mengucurkan dana 700 miliar dolar AS untuk menyelamatkan bank-bank investasi di negara itu, kondisi keuangan dunia-ditandai dengan runtuhnya berbagai indeks saham di berbagai negara-tak kunjung memperlihatkan kebangkitan. Indeks Dow Jones tetap saja terjungkal. Demikian pula indeks berbagai bursa saham dunia lainnya. Pada penutupan Jumat akhir pekan lalu, indeks Dow Jones melorot.

Kini Pemerintah AS dikabarkan tengah merencanakan proposal baru untuk menyelamatkan bank-bank komersial di negeri itu. Pasalnya, diam-diam ternyata tidak sedikit bank di AS mengalami kredit bermasalah dan terjebak pada perdagangan surat berharga yang sudah jauh merosot nilainya. Jika pemerintah tetap berdiam diri, maka gelombang yang tak kurang dahsyatnya akan segera menyapu para pelaku ekonomi di bursa sebagaimana gelombang awal krisis ini. Rontoknya perbankan komersial tentu akan berakibat lebih buruk karena dampaknya menjangkau masyarakat di luar komunitas pasar modal.

Ada hal fundamental yang terlupakan dalam upaya penguatan kembali ekonomi AS tersebut: kejujuran, kejelasan masalah, dan transparansi. Akibatnya jelas, jangankan mampu mengatasi masalah dan menguatkan kembali pasar keuangan, melihat apa yang tengah berlangsung pun, Pemerintah AS belum memiliki informasi akurat tentang krisis. Kita berhak meragukan apakah mereka mampu memetakan seberapa luas dan dalam krisis keuangan yang tengah terjadi atau tidak.

Alpanya kejelasan dan transparansi itu pula yang sepertinya terjadi di Indonesia seiring krisis ini. Senin pekan lalu, pemerintah mencoba menenangkan pasar dengan memberikan pernyataan seputar kondisi perekonomian kita. Saat itu pemerintah mengumumkan, secara fundamental ekonomi Indonesia bagus, dengan cadangan devisa sekitar 57,11 miliar dolar AS, mampu mencukupi impor selama 4,5 bulan, dan angka pertumbuhan masih di atas enam persen.

Yang mengherankan, pernyataan tentang kuatnya fundamen ekonomi itu justru mendapat respons negatif dari pasar. Indeks saham, IHSG, justru makin melorot sampai 10,38 persen sehingga pasar dihentikan. Pemerintah terus melontarkan pernyataan untuk menenangkan pasar, tapi alpa menunjukkan kondisi itu. Orang wajar bertanya-tanya ketika pekan lalu pemerintah menggelar sidang kabinet dadakan pada malam hari. Selain itu, pada hari Kamis lalu pemerintah dengan yakin mengumumkan dibukanya kembali pasar bursa nasional pada Jumat (10/10), di hari pembukaan, tetapi justru faktanya pasar tetap disuspensi.

Serangkaian kejadian itu wajar membuat pasar bertanya-tanya dan tak jarang memperlihatkan kecurigaan. Ujung-ujungnya, beredar rumor bahwa batalnya pembukaan itu terkait makin melorotnya nilai saham sebuah grup bisnis tertentu milik salah seorang pejabat pemerintah.

Padahal, ketidaktransparanan itulah yang membuat ekonomi AS tak banyak berubah, bahkan setelah beleid bailout diumumkan. Ketertutupan informasi dalam sistem keuangan AS membuat perusahaan finansial yang sudah sekarat pun tidak langsung diketahui umum sebagai perusahaan yang bermasalah. Itu sebabnya, meski bailout diluncurkan dengan kampanye media yang memadai, Indeks Dow Jones tetap saja terjungkal.

Fakta terakhir terkuak bahwa hingga Sabtu pekan lalu sudah ada 15 bank AS yang semaput dibius krisis ini. Dari 15 bank itu, dua di antaranya baru ketahuan pada hari tersebut. Ketidakjujuranlah sebenarnya yang telah membuat perekonomian AS kolaps dan menyeret dunia yang mengekor di belakangnya ikut semaput.

Apa yang ditulis George Soros dalam The New Paradigm for Financial Markets menegaskan betapa perekonomian dunia sebenarnya dibangun dengan fondasi kebohongan. Dunia ekonomi pasar bebas telah terjebak hanya semata superbubble financial. Pada transaksi derivatif, nilai aset telah disekuritisasi berlipat-lipat lebih tinggi dari nilai aset produk yang menjadi basis derivatif.

Wajar jika orang terkaya AS, Warren Buffet, menyebut perdagangan derivatif sebagai senjata pembunuh massal. Sejak lama Buffet telah wanti-wanti soal potensi dahsyat dan mematikan dari produk yang awalnya dirancang untuk mencegah pemodal dan pengusaha dari lubang besar risiko kerugian itu. Padahal, seiring perkembangan, yang kemudian disekuritisasi dengan produk derivatif bukan lagi hanya kredit-kredit perumahan, melainkan juga hampir semua komoditas yang diperdagangkan di pasar dunia. Tidak mengherankan, apabila nilai-nilai produk derivatif saat ini disebut-sebut mencapai 531 triliun dolar AS.

Meski kukuh memosisikan diri sebagai pendukung transaksi derivatif, mantan Gubernur Federal Reserve Bank Alan Greenspan menyayangkan perilaku para pelaku pasar keuangan dunia. Menurut Greenspan, kegagalan derivatif semata karena pelaku pasar uang terlalu rakus, tamak, dan tidak memiliki moralitas. Itu menyebabkan ketidakhati-hatian, satu hal yang disyaratkan dalam transaksi keuangan apa pun.

Sebagaimana dikatakan Joseph Stigliz, pasar tidak bisa begitu saja dipaksa bekerja sempurna. Pasar yang sempurna mengandaikan adanya kesetaraan dan lengkapnya informasi. Satu hal yang lain, kejujuran untuk membangun sikap saling percaya. Ketika kejujuran tidak berjalan sempurna seiring pemalsuan informasi akibat sifat rakus, pasar bebas pun tak mampu berjalan.

Absennya sikap saling bisa dipercaya dalam praktik kapitalisme ini sangat mengherankan. Sebagaimana dinyatakan Francis Fukuyama dalam bukunya, Trust, sistem ini bisa berjalan dan bertahan justru karena adanya kepercayaan (trust) tadi.

Para founding father negara ini pun sebenarnya jauh-jauh hari telah melihat hal tersebut. Mohammad Hatta, misalnya, meyakini apa yang disebutnya ekonomi gotong royong. Dalam perekonomian yang meniscayakan saling membangun, menguatkan, dan memberi itu, tak mungkin terjadi perkembangan tanpa adanya saling percaya.

Barangkali apa yang digagas Stigliz itu kongruen (sama dan sebangun) dengan cita-cita Bung Karno memimpikan ekonomi gotong royong yang berdikari. Di dalam suasana tolong-menolong ala sosialisme itu, Bung Karno masih sangat memercayai elan vital yang mampu diembuskan rasa kemandirian, berdiri di atas kaki sendiri, alias berdikari.

***

Sumber:

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=211333

14 Oktober 2008

 

TANGGAPAN

Belum ada tanggapan sampai saat ini.

Silahkan melakukan login terlebih dahulu sebelum Anda bisa memberikan tanggapan. Jika belum menjadi anggota, silahkan untuk mendaftarkan diri Anda terlebih dahulu. GRATIS!