Artikel

Nasionalisme (Ke-Indonesiaan) Yang Terjaga

Minggu, 17 Agustus 2008 17:32

Budimanta.com - Dr. Ir. Arif Budimanta, MSc

Nasionalisme adalah kata yang tidak pernah habis diperdebatkan sepanjang masa. Konflik Israel dan Palestina, juga menggunakan jargon nasionalisme sebagai pemersatu bagi para pihak yang berkonflik. Kata Anasionalis streotipe yang diberikan kepada pelaku-pelaku yang mengambilkan tindakan yang tidak mengindahkan semangat kebangsaan dan persatuan.

Nasionalisme menggambarkan suatu keutuhan yang menyeluruh mengenai vision bersama mengenai bangsa. Nasionalisme memberikan ikatan imajinasi antar kelompok/suku bangsa dalam suatu negara mengenai perlunya pemaknaan simbol tentang imajinasi itu sendiri menjadi sati identitas bersama.

Nasionalisme memberikan makna kesemestaan bagi anggota-anggota yang meyakininya. Inilah yang membuat kohesivitas kita sebagai bangsa yang dinamakan Bangsa Indonesia tetap terjaga sampai dengan saat ini dengan berbagai corak dan dinamika sosial yang berkembang.

Konflik sosial yang mengungkapkan persoalan agama maupun suku bangsa ternyata tidak memadamkan ikatan imajinasi kita mengenai Indonesia. Solidaritas kita sebagai anak-anak bangsa ternyata sangat persisten, setidaknya sampai dengan saat ini, sehingga Indonesia sebagai sebuah negara dan sekaligus Bangsa tetap bersatu dan utuh.

Beberapa pengamat sosial, terkadang memberikan artikulasi yang menghadapkan nasionalisme dengan etnonasionalisme di Indonesia. Tetapi disisi lain KeIndonesiaan warga bangsa yang terjaga juga menjadi obyek kajian yang menarik bagi banyak pengamat sosial.

Apa yang dapat merekatkan Indonesia, dengan suatu rentang diferensiasi yang begitu panjang dan dalam, mulai dari peradaban, lapisan ekonomi, sosial maupun suku bangsa ? Momentum besar bagi Keindonesiaan kita, menurut sejarah, lahir dari adanya kesamaan pandangan pemuda tentang bangsa, bahasa dan tanah air pada tahun 1928, dan perumusan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Momentum ini secara perlahan kemudian menjadi keyakinan dan pedoman imajinatif bersama warga bangsa sampai dengan saat ini, yang kemudian menjadi kesadaran diskursif sekaligus kesadaran praksis bagi kita semua, setidaknya pada ungkapan mengenai tanah air, bangsa dan bahasa.

Kesamaan pandangan itu, muncul dari sebuah proses diskusi dan perdebatan yang panjang, penuh dengan referensi ideologis maupun pemahaman yang mendalam mengenai arah bangsa kedepan, kerelaan berkorban dari kelompok yang seharusnya menjadi dominan serta kesetiakawanan antar warga bangsa. Itulah yang membuat KeIndonesiaan kita tetap tersemai dengan baik sampai dengan saat ini.

KeIndonesiaan kita akan terus terjaga apabila ke depan kita terus melangkah yang setidaknya mengacu kepada tiga hal yang prinsip yaitu mendekatkan rasa keadilan kepada masyarakat, mempercepat penataan kembali sumber-sumber kemakmuran negeri ini yang lebih mengedepankan kepentingan rakyat, serta memperkuat dan memperkukuh kembali semangat kesetiakawanan dan kegotongroyongan.

KeIndonesiaan terjaga apabila para pelakunya bekerja untuk itu, itulah dasar gagasan besar mengenai kesetiakawanan kebangsaan. Melangkah bersama itulah yang kita perlukan, sehingga dikotomi antara pusat daerah tidak lagi menjadi wacana yang diperdebatkan, trikotomi santri, abangan, priyayi bukan lagi kategori, karena sudah terfungsionalisasi dengan baik dalam spirit KeIndonesiaan kita.

Dirgahayu Indonesia !!!!!!

Rawamangun, 14/16 Agustus 2008

TANGGAPAN

Belum ada tanggapan sampai saat ini.

Silahkan melakukan login terlebih dahulu sebelum Anda bisa memberikan tanggapan. Jika belum menjadi anggota, silahkan untuk mendaftarkan diri Anda terlebih dahulu. GRATIS!